Kenalilah Rajamu, Kalau Dzolim Boleh DiGanti

KENALILAH RAJAMU KALAI DZOLIM BOLEH DIGANTI
Nama warungnya Jinggo Muslim, warung kecil pinggir jalan dekat rumah, tempat nongkrongku saat sore hari selepas berdagang seharian.


Makan sebungkus nasi, atau sekedar minum kopi, cukuplah untuk mengisi kekosongan waktu dan kosongnya perut.

Sebenarnya bukan makan atau minum yang menjadi tujuan berlama-lama nongkrong diwarung itu, tapi lebih kepada ngobrol dan tukar pikiran , dari hal sepele dan remeh sampai hal yang berat dan gawat.

Meskipun tidak tiap hari nongkrong di sana, paling tidak dalam seminggu bisa 2 atau 3 kali.

Obrolan serius yang pernah kami lakukan adalah tentang kesehatan dan penyakit.

Dengan smartphone yang dia punya, info kesehatan yang kita inginkan dengan mudah di dapat,  dan kebetulan, ada jaringan wifi gratis dari minimarket disekitar tempat itu.

Aku mulai cerita tentang penyakit yang aku idap selama ini.

Begitu sulitnya menyembuhkannya, dari  mulai pengobatan secara medis, alternatif sampai herbal, sudah dilakukan dan masih dilakukan sampai tulisan ini di-posting.

Tapi penyakit ini tetap saja belum ada penurunan menuju ke arah normal, sampai terbersit sedikit "putus asa" di pikiran, tapi dengan segera kuhapus pikiran itu.

Setelah panjang lebar aku cerita, saatnya temanku ini, Jinggo Muslim yang cerita tentang kesehatan dirinya.

Dan ternyata dia juga punya penyakit yang berbahaya dan menakutkan, menakutkan di sini dalam artian akan berakibat fatal kalau tidak segera diambil tindakan.

Berikutnya kita sibuk mencari informasi tentang semua hal yang berhubungan dengan penyakit masing-masing.

Baik pengertiannya, gejalanya, pengobatan medis dan herbal, sampai kepada gaya hidup, pola makan dan manajemen stress yang dianjurkan untuk si sakit.

Bergantian saling tukar pikiran, tampaknya di antara kami ada perasaan cemas, takut, khawatir dan mungkin juga penyesalan atas kebiasaan buruk dalam mengelola hidup kami sehari-hari, berbaur jadi satu.

Dan uniknya, obrolan tentang kesehatan dan penyakit ini memunculkan beberapa hal baru yang sebenarnya tidak berhubungan dengan topik obrolan itu sendiri.

Baca Juga : Memancing Ikan Di Kolam Emosi
                  
                    Segumpal Daging Itu Adalah..

Yang pertama, kami berdua mempunyai penyakit yang sama-sama berbahaya, tapi masing-masing dari kami merasa penyakit diri sendiri saja yang paling berbahaya dan menakutkan.

Kedua, karena banyaknya informasi yang didapat, tentang penyakit ini, masing-masing kami merasa, ini seperti sudah akhir dari segalanya, habislah semuanya, seperti gelap dan mau kiamat.

Ketiga, dalam komunikasi dua arah, kebanyakan kita ingin dan punya hasrat yang kuat untuk selalu menceritakan diri kita, daripada mendengarkan orang lain bicara.

Ke empat, sebuah kesadaran muncul, bahwa kita hanya sebagai makhluk Allah yang lemah dan tak berdaya.

Diberi 1 saja penyakit yang menurut banyak informasi sangat berbahaya, kita sudah merasa gak bisa apa-apa, bahkan yang lebih parah mengarah pada rasa putus asa.

Berikutnya adalah, dari semua kesimpulan itu, satu hal yang pasti, yang punya peran dominan di sini adalah pikiran.

Semua berawal dari pikiran, kecemasan, perasaan putus asa, egois, bahkan ada penyakit itu sendiri adalah akibat dari pikiran.

Boleh dibilang, pikiran kita adalah raja, pemimpin dan penguasa diri, pemimpin raga dan jiwa.

Meskipun kedudukan raja itu tinggi, kenalilah raja kita, pemimpin kita.

Kalau dia dzolim dan semena-mena, boleh dong berusaha mengganti pemimpin, untuk diganti dengan yang lebih baik dan bijak.

Sengaja tidak saya tulis jenis penyakitnya, demi untuk melindungi privacy penulis dan orang yang terlibat dalam tulisan saya ini.















Belum ada Komentar untuk "Kenalilah Rajamu, Kalau Dzolim Boleh DiGanti"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel